pandemi virus corona di industri penginapan dan hotel

Industri Penginapan dan Hotel vs Pandemi Virus Corona

ACC Home – Penginapan dan Hotel mengalami dampak dari pandemi virus corona (COVID-19), yang berdampak mengalami penurunan pendapatan. Pihak pengelola penginapan dan hotel hanya bisa bertahan di tengah pandemi ini dengan cara mengandalkan sumber daya yang ada untuk mendukung dana kas hingga membangkitkan kesadaran sosial.

Beberapa hotel dan penginapan menawarkan jangka waktu menginap yang selama 30 hari, hal ini diharapkan menjadi efektif bagi wisatawan mancanegara dan domestik untuk bisa menetap, berdiam diri saja di hotel agar mereka tidak terkena pandemi yang mewabah dimana-mana.

Strategi penginapan dan hotel di tengah pandemi virus corona

Seperti Hotel Swiss Bel Express menawarkan paket menginap selama 30 hari sampai 31 mei 2020 dengan harga Rp 4.890.000 dengan fasilitas wifi, akses kolam renang, layanan antar produk jasa makanan dan minuman mereka secara berani.

bisnis penginapan dan hotel artotel
bisnis penginapan dan hotel artotel

Hotel lainnya seperti Artotel yang tidak hanya mengandalkan bisnis penginapan hotel, makanan dan minuman tapi CEO Artotel Erastus Radjimin Senin 6 April 2020 mengatakan lebih mengandalkan promosi konten mengenai gaya hidup dan kesadaran sosial terhadap pandemi Virus Corona (COVID-19).

Berikut kata dari CEO Artotel Erastus Radjimin ”Pada saat bisnis hotel dan makanan, minuman tiarap, kami fokus ke konten. Mengingat tema usaha kami adalah hotel dan gaya hidup, kami fokus membangun koneksi antara brand dan masyarakat sekaligus menciptakan dampak sosial. Menurut kami, hal ini penting karena jika tidak melakukan apa-apa di kondisi saat ini, tidak akan sehat bagi perusahaan”.

Artotel saat ini mengandalkan konten digital yang melibatkan industri kreatif dalam bentuk seminar web, tutorial dan gelar wicara. Konten itu dibuat untuk mengingkatakn kesadaran masyarakat untuk untuk tetap di rumah dalam melawan Virus Corona (COVID-19).

Perihal ini dilakukan karena ada 50% karyawan hotel yang bekerja dirumah Adapun dari 15 properti hotel yang dimiliki Artotel di seluruh dunia, saat ini hanya 6 hingga 7 hotel yang masih beroperasi. Selama ini, manajemen Artotel bertindak untuk tidak melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK).

Menurut data Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) hingga minggu 5 april 2020 1180 properti properti hotel di seluruh Indonesia ditutup sementara. Hampir separuh dari hotel berbintang, jika menurut data Badan Pusat Statistik 2018, mencapai 3.314 hotel.

Maksimalkan insentif

Mewakili pelaku industri perhotelan dan penginapan, Erastus mengatakan, saat ini rata-rata okupansi hotel yang masih beroperasi hanya mencapai 20 persen. Dengan okupansi yang turun, pelaku usaha harus menekan biaya pengeluaran hotel yang rata-rata 60-70 persen dari omset. ”Pengeluaran hotel paling besar adalah gaji karyawan, dan utilitas, seperti listrik dan air. Hotel bisa ditutup supaya biaya utilitas berkurang, tetapi karyawan, kan, enggak bisa” katanya.

Oleh karena itu, Erastus berpendapat, insentif yang diberikan pemerintah berupa keringanan pajak dan upah, pengajuan kredit, serta diskon biaya listrik dan bahan pokok untuk pekerja yang tidak bekerja bisa membantu.

Namun, ia berharap pemerintah bisa lebih fokus menangani pandemi virus corona agar tidak berdampak lebih lama pada aktivitas ekonomi. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio, dalam unjuk bincang Live Stream Fest bertajuk ”Tourism Strategy in Facing the Challenge”, Minggu 5 april 2020, mengatakan, pihaknya dan lembaga pemerintah lainnya terus berkoordinasi untuk menangani pandemi Virus Corona.

grafik statistik penurunan wisatawan 2020
Grafik Statistik Penurunan Wisatawan 2020
grafik statistik penurunan wisatawan 2020
Grafik Statistik Penurunan Wisatawan 2020

Adapun upaya untuk mendukung usaha yang terdampak pandemi juga terus dikerjakan. Misalnya, meminimalkan potensi PHK.

”Sementara ini, kami masih dalam diskusi dan perencanaan bersama lembaga pemerintahan dengan melibatkan kementerian koordinator terkait dan dengan persetujuan Presiden untuk mengeluarkan stimulus baru,” katanya. Menurut Wishnutama, industri pariwisata menjadi sektor industri paling terdampak pandemi dibanding 12 sektor industri lain di Indonesia, seperti transportasi, pertambangan, jasa logistik, tekstil, dan produk tekstil.

Pandemi membuat sekitar 13 juta pekerja  dan 40 juta pekerja informal di sektor pariwisata terdampak. Nilai kerugian dari pandemi jika berakhir pada Mei atau Juni, menurut dia, akan mencapai 15 miliar dollar AS, dihitung dari proyeksi hilangnya devisa pariwisata. Masa pemulihan industri pariwisata juga diperkirakan membutuhkan waktu 10 bulan, menurut World Travel & Tourism Council (WTTC). ”Namun, menurut Tourism Economics, industri pariwisata dunia baru betul-betul pulih pada 2022,” katanya.

Bagikan Konten :

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate
Scroll to Top
×

Halo ada yang bisa kami bantu?

× Hubungi Kami